Abis nntn siaran dsalah satu channel dtv swasta nasional yg sedang membicarakan tentang peraturan terbaru apbila ingin menjadi salah satu pemimpin daerah maupun pusat dnegeri ini. Bagi para pemabuk, pemakai (psikotropika), dan pernah berzina tdk boleh menjadi pemimpin (bupati,walikota,gubernur,dsb.). Ckp menarik pembicaraan di acra ini, seperti debat gitu, antara Nurul Arifin dan salah satu mentri,ya pro n kontra gt lah. Ya, tau sendiri lah, bgaimana para politisi jika sdg mempertahankan argumen, susah ngebedain mana yg bener mana yg bo'ong, 22nya berbicara berdasarkan fakta n atas nama rakyat, pdhl rakyat yg mana gtw jg. Klu aq dianggap rakyat sama mereka, sumpah aku gk pernah peduli dgn yg mereka perdebatkan. Karna memang aku udh gk butuh pemimpin,apalagi pemimpin seperti mereka.
Hmmmm, lagi lagi mereka ngmg soal etika n moral, ya apalagi klu bkn itu, mabuk, pemakai,n berzina itu mmg nyangkut soal etika n moral. Dan saya kira hanya sedikit org yg menyisakan tentang moral n etika didalam dirinya, seiring dgn perkembangan zaman yg tak terkendali.
Rahasia umum memang jika peraturan yg belum sah ini tercetus setelah salah satu artis hot indonesia ingin mencalonkan diri menjadi salah satu bupati daerah. Yg jd masalah sbnrnya, knp hak utk menjadi calon pemimpin dgagalkn hanya karna org tersebut pernah melakukan hal yg dianggap jelek oleh org indonesia yg umumnya agamais.Mereka selalu menyebut kafir, jalang, mantan napi, penjahat. Ya klu dlunya emg seperti itu terus kenapa??Toh emg stiap org gak mgkn sama dan mengalamin perubahan. Klu peraturan ini sampai jadi, mgkn 10 atau 20 taun lg indonesia tdk memiliki pemimpin lg, karna pd kenyataannya, hanya sedikit anak muda kini yg tdk berzina, mabuk dan memakai obat yg dianggap terlarang. Sedihnya lagi, kenapa stiap peraturan di sini (indonesia) pasti mensudutkan salah satu gender. Atau mgkn itu memang udh jdi turunan ya??hahaha, gatau deh.
Yah, pemimpin, pemimpin pemimpin, aneh bgt dgn kata n perwujudan ini.
90 persen atau154ribu lebih siswa/i tingkat smu/sma/smk/ma dan sederjat skala nasional yang akan mengulang UN pada tahun ini, meningkat beberapa persen dari tahun sebelumnya, angka yg sangat fantastis, apalagi dibarengi dengan pendapat pemerintah pusat yg mengatakan bahwa kejujuran siswa/i pada tahun ini meningkat. Alasan yg sangat menyedihkan sekali saya kira.
Sekolah, ya sekolah, sebuah momok yg harus djalanin oleh setiap anak yg telah berusia 6 tahun keatas.
Kenapa sekolah saya sebut sbgai momok??
Ya, mgkn itu adalah kata yg paling pantas dan cukup halus untuk menyatakan sebuah kebrutalan, kbobrokan suatu sistem pendidikan dewasa ini dinegeri ini. Dengan biaya yang hampir sangat susah dgapai untuk kalangan yg hidupnya pas pas-an, dan hanya sebuah impian untuk orang yg berada dbawah garis kemiskinan, kali ini sekolah berubah wujud menjadi sebuah badan yg seolah olah dpt merubah status hidup dan membalikan kearah yg jauh lebih baik (walaupun bnyk kejadian, murid bunuh diri karna malu orang tua mereka tidak sanggup membayar sekolah). Hum, sungguh ironis memang, dilain pihak saat sebagian masyarakat ini harus berjibagu untuk masalah perut pada hari ini, tp mereka harus berusaha juga mencukupi kebutuhan guna biaya sekolah anak anak mereka yang menjulang setinggi tebing dan siap menghempaskan mereka.
Yah, sekolah ku sayang, sekolah ku malang. Dsatu sisi pendidikan emg sangat berperan dlm sistem masyarakat kita, tp dsisi lain justru dpt mengancam hidup. Belum lagi untuk para setiap siswa/i dharuskan mengikutin ujian apabila sedang duduk dtingkat akhir guna melanjutkan kejenjang berikutnya yg lebih tinggi. Pdhl, fasilitas dan sistem mengajar kebanyakan dinegeri yg sangat tersohor akan korupsinya ini jauh daripada standar. Yah bisa dkatakan sebenarnya, dsini, dnegeri ini, sekolah belum pantas di adakan ujian akhir apalagi dengan standar nilai yg drasa ckp berat diraih untuk sebagian besar sekolah.
Yah,smoga saja kemelut penjara yg bernama sekolah ini akan segera berakhir, atau mungkin saja sekolah yg akan berakhir, sapa yang tau.
Bangun pagi dan mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk hari ini. Ya ngejalanin rutinitas yang baru saja tercebur kedalamnya, kemarin. Saat ini aku sedang menjadi salah satu petugas sensus sampai akhir mei mendatang. Mungkin ini adalah salah satu pekerjaan menarik untuk dijalani, yah kapan lagi kita dapat mengetahui sisi sebenarnya dari sebagian masyarakat dibumi Indonesia ini yang sebagian besar masyarakatnya adalah orang yang beragama dan katanya sopan.
Ya, orang Indonesia atau mungkin budaya timur itu sopan dan baik. Tapi mungkin itu kita hanya temukan dalam gang kecil dan rumahnya sangat tidak tertata rapi yang mungkin untuk sebagian orang kaya akan berpikir beberapa kali untuk masuk kedalamnya, yah kecuali karna mereka ingin menipu atau sedang ada maunya, itu lain soal. Tapi berapa banyak sih saat ini, dikota ini yang masi h menyimpan gang seperti itu dan kultur masyarakat yang masih menjunjung yang katanya budaya timur.
Pada saat sensus kemarin baru kurasakan kesombongan beberapa masyrakat yg belum pernah ku rasakan sebelumnya, sehingga aku dapat mendefinisikan beberapa kriteria masyarakat dari status atau derajat.
1. Keluarga miskin
Ya, sangat tidak menyangka aja dengan hal yg dluar dugaan. Dengan keluarga yg notabene-nya dianggap miskin dan jarang yg ada mengecap bangku pendidikan ini ternyata lebih tau cara bersosialisasi dan sangat peka trhdp sekitar. Ini kurasakan langsung saat sedang mendata pada hari pertama kemarin yg kebetulan dkawasan didaerah pemukiman padat.Sambutan warga begitu sangat hangat dan membuat kami seperti berada dirumah sendiri.
2. Keluarga yang agak kaya/kaya tp belum kaya banget.
Hufh, sumpah,kebanyakan dsini, untuk keluarga yang jenis seperti ini yg sangat menyebalkan. Setelah keluar rumah dari keluarga yg bernotabene tersebut, kebanyakan dari kami banyak mengeluarkan sumpah serapah. Yah mereka sangat menyebalkan, walaupun terdapat sebagian kecil dari mereka juga ada yang ramah, tapi yg kudapati hanyalah orang yg sombong yg berasa dia adalah seseorang yg mgkn seperti raja.
Udah ah, males banget ngingat mereka.
3. Keluarga kaya.
Dengan rumah, yg memiliki luas halamann yg dpt dbangun kurang lebih 10 bangunan rumahku. Ingat, ini baru halaman, belum termasuk rumah. Ternyata kebanyakan dari mereka enggak sesombong yg seperti kami kira. Ya cukup hangat walaupun dengan masih tetap pada sikap yg seperti jual mahal. Tp msh dalam tahap kewajaran.
Dapat aku simpulkan disini bahwa, bahwa orang yg gk mengecap bangku pendidikan bahkan dapat berperilaku berpendidikan dibandingkan orang yg bener bener merasakan panasnya bangku sekolah. Dan kamu bisa merasakan kehangatan dan keramahan budaya timur dbalik lokasi yg dengan pemukiman padat dan hampir dari sebagian dari mereka adalah orang miskin.
Sayang sekali, seandainya saja pemimpin dari negeri ini adalah dari salah satu orang yg masih menjunjung keramahtamahan, pasti sangat menyenangkan.
hehehehe...ketemu lagi, setelah beberapa minggu tidak nongol didepan layar flat, yeah karena koneksi internet gratis yang lagi hang juga dikarenakan aku lagi belajar serius untuk menempuh pendidikan kuliah ku yang hanya tersisa beberapa semester lagi. Udah berasa bosen banget sih sebenernya kuliah di jurusan yang sama sekali aku gak mengerti sama sekali. Matematika, menjadi momok terbesar selama aku menempuh pendidikan di teknik sipil, terlalu bodoh emang, udah tau gak pinter matemtika, kenapa juga harus mengambil bidang studi Teknik Sipil, aaarrrrgggghhhh parah. Dari semester awal sampai semester 6 yang sedang kutempuh ini, tidak ada satupun iilmu yang nyangkut dalam benakku, yeah kecuali ceritra ceritra waktu sempat kerja dulu, mejadi surveyor yang sanggat bodoh dan tidak di gaji. Sudah sangat terlambat memang untuk mengulang atau menempuh jalur pendidikan yang lainnya. Pengennya sih nglanjutin atau ngulang ke jurusan yang sangat memungkinkan untuk aku, seperti komputer gitu misalnya, tapiiiiiiiii.........yah........berhalangan dengan sesuatu yang sangat ku benci.... UANG.......... !!!!!!!!!!!
Saat ini aku menempuh pendidikan di Universitas yang tergolong mahal di kota ku, jadi sangat tidak mungkin aku meminta untuk pindah kuliah ke unversitas lain, yang sesuai dengan kemampuan pengetahuan yang kumiliki atau dengan kata lain, pindah kuliah dan pindah jurusan dan memulai dari awal lagi. Sudah terlalu banyak uang yang telah ku habiskan, belum lagi uang uang hasil nipu orang tua yang ngakunya untuk keperluan kuliah padahal di belanjakan untuk yang lainnya, hehehehehe, mungkin ini yang namanya karma. Jadi yang kulakukan saat ini di kelas pada saat kuliah sedang berlangsung hanya meratapi kemalangan nasib dan memperhatikan dosen ngoceh gak tau arahnya kemana. Berharap untuk menguasai salah satu mata kuliah paling tidak,,, tapi,,,,, haaaaah sesuatu yang percuma sepertinya.
Beberapa waktu lalu sempat ngebahas tentang pilihan yang kurang tepat ini bersama kawan yang juga mengalami kejadian yang sama seperti aku. Hanya bedanya, dia di jurusan yang berbicara tentang birokrasi, dan tidak terlalu susah menurut saya, dan yang membedakan lagi, dia hanya pasrah dan menjalaninya, mungkin bersungguh-sungguh tapi tetap tidak mengikuti kata hatinya, katanya sih, daripada gak dapat dua dua nya, jadi ambil aja deh yang ada sekarang. Hufh..............liat aja deh, sampai kapan aku mampu untuk ngejalanin ini. Sepertinya aku harus mempersiapkan uang ekstra untuk mengunjungi dokter praktek terdekat dan berharap sang dokter mau mengeluarkan secarik kertas dengan sejumlah resep diatasnya untuk sejumlah obat penenang yang sangat kubutuhkan akhir akhir ini. Hum...hilang ingatan untuk waktu sejenak mungkin akan sangat membantu memberi ruang kembali untuk otak ku yang mulai penat dengan segala rutinitas yang gak aku sukai, dan untuk kota yang sudah sangat aku ingin tinggalkan.
PS : Beberapa minggu terakhir ini, yang mengatai aku seperti orang gila / stress lebih banyak ketimbang beberapa bulan lalu. Mmmmmmm mudahan aku gak jadi orang stress atau gila beneran.





