Dtemanin musik pop yg bernuansa jazz dan lantunan suara merdu dari seorang gadis Malaysia yg jago memainkan string gitar, mencoba mencari sedikit kesejukan.
Begitu banyak teriakan yg udh terlanjur keluar dari mulut, dstiap detik, ddlm stiap lamunan, tdk pernah luput dari seruan dan teriakan dalam diri yg renta karna guncangan yg semakin sering mendera. Tirani telah menjadi nurani. Nurani yg memberangus dsetiap jengkal kehidupan, yg membuat ku hanya memaki dalam diam. Begitu bnyk perubahan yg sudah terlalu telat untuk dperbaiki. Dan untuk setiap sisi kehidupan yg penuh sumpah serapah, kini ku mencoba bangkit dan berdiri, berharap badai segera berlalu dan kudapati sebuah impian yg menjadi nyata.
Hidup kali ini memang tidak sesimple seperti halnya hanya makan dan minum dan bernafas. Hidup kali ini lebih pelik, terlalu bnyk syarat dan harapan kosong yg harus dmiliki, atau segenggam kekuasaan yg dpt membuat orang lain mati pada saat masih bernyawa.
Hum, lagi lagi ada permasalahan yg sangat krusial. Merasa udh menjadi diri yg paling miskin 1 dunia. Menyedihkan sekali. Berkali kali terinjak dalam suatu sistem keduniaan yg kian membabi buta. Dan mungkin memang benar, kalau kemiskinan itu merevolusi dirinya sendiri menjadi lebih tinggi untuk bisa dkatakan miskin.
Hum, hidup ddunia yg penuh dgn kemunafikan mungkin sama buruknya bila kita dhujam oleh panasnya batuan api jahanam. Dua duanya begitu sangat menyakitkan, membuatmu harus bangkit karna kesadaran yg kamu miliki dan akhirnya kamu harus dhujam dgn batuan yg sama atau mungkin lebih keras dan kuat dari sebelumnya.
Kalau orang menyebut ini sebagai ujian atau cobaan hidup, atau hal yg memang harus terjadi. Aku menyebut ini sebagai penyiksaan atau mungkin sebuah kerugian. Bagaimana mungkin, orang yg di cap miskin oleh sebuah struktur atau sebuah sistem yg sengaja dbentuk dapat menghancurkan seseorang, karna memang orang tersebut sudah terlanjur larut oleh cap yg udh dsandangnya. Tidakkah mereka bs dbantu bukan hanya dengan janji janji palsu, atau kebohongan yg sangat abadi ddunia ini. Bahkan kini ku merasa para ustadz dan para pengkhotbah adalah kumpulan para munafik. Ya, mereka adalah para pembohong yg menceritkan betapa manisnya kehidupan abadi yg akan dperoleh orang orang yg sabar. Ya, sekali lagi mereka menenangkan jiwa si miskin untuk mencoba bertahan dstiap detiknya hanya dengan berdoa dan melakukan hal keduniaan lainnya untuk menyelamatkan hidupnya di dunia dari bencana kelaparan yg selalu siap berada dbarisan depan untuk memangsa nyawanya. Hufh, kalau udh begini, kemana para penguasa negeri yg memimpin segenap jiwa raga rakyat, atau para pengkotbah yg hanya bisa menenangkan jiwa untuk sesaat, berharap mereka segera lupa terhadap masalah yg ada, dan menjalani rutinitas seperti biasa, berharap hari esok lebih baik dari hari kemarin.
Hah, sekali lagi, aku dhantam oleh perasaan yg semakin membuatku yakin, bahwa hal yg paling abadi didunia ini adalah kebohongan. Dan kebenaran adalah kebohongan itu sendiri.

Kamera lomo pesanan ku datang, hahahaha, yah lumayan lah untuk sedikit menyunggingkan senyum di wajah yang sejak dari pagi hanya rasa kantuk yang mendera dan rasa benci yang mulai muncul karena udah merasakan diperlakukan seperti robot di pekerjaan yang baru saja genap seminggu ini ku jalani sebagai salah satu petugas sensus. Hufh, yah bekerja itu emang selamanya bakal membuat orang merasa jengkel dan muak, apalagi diperlakukan seperti budak, seperti pada jaman jahiliyah dan hasil yang diterima tidak sepadan dengan yang kita kerjakan, bisa dibilang romusa abad 21. Padahal gak berbeda jauh perlakuannya pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia pada beberapa puluh tahun yang lalu. Hanya penghalusan kata yang berubah, gak penting banget emang. Lebih baik dengan kata yang paling buruk tapi yang dirasakan tidak seburuk dengan sebutan atau kata yang di sandangnya.
Tidak ada yang begitu buruk di dunia ini sehingga tidak ada satupun hal yang dapat membuatmu tersenyum. Yah, hal inilah yang coba kusadari dan mencoba menyelamatkan ku dari kegilaan yang amat sangat akan kejahatan dunia kerja. Mungkin sebagian orang bakal menyebutku sebagai orang yang hanya bisa mengeluh dan akan menganjurkan ku, mengapa tidak pasrah aja untuk hal yang gak mungkin bisa dirubah (dunia kerja). Atau kalau aku tidak menyukai hal tersebut kenapa harus kujalankan, apa itu tidak menjadi kesan akan kemunafikan ku?.
Ya, bisa dikatan seperti itu, emang aku orang yang munafik. Tapi paling tidak aku tidak belajar menjadi orang yang munafik tapi pengecut. Ya, hanya orang yang pengecut dan munafik yang udah tau hal dijalanin adalah sesuatu yang dapat membunuh segenap jiwa raga, tapi tetap di jalanin dengan rasa setengah hati, tanpa mengeluh, meronta dan mencoba untuk merubah. Berteriak tidak suka dan tidak melakukan sesuatu itu mungkin lebih baik, ketimbang hanya pasrah dan siap dibunuh kapan pun. Paling enggak dengan berteriak, musuh akan tau, masih ada yang tidak suka padanya. Dan untuk hari esok yang masih harus kujalanin, semoga engkau beruntung nak. Bukan sebagai makhluk yang sombong yang mengatasnamakan dirinya manusia.





